Berita

Tanah dan Air Butuh Darah, Jangan Asal Berjuang!!!

OPINI, GARUDA CITIZEN- Mari kita bersama-sama membaca teks ini dengan Basmalah… Dan fikiran yang tenang serta menghilangkan Otak panas secara tiba-tiba.

Kalau mendengar kata “sosialisme” yang pertama ada di benak kita adalah tentang sosial. Kita yang mengkonsumsi Sosialisme selalu berbicara pada Keadilan,Hak, dan kebebasan. Bagaimana tidak kita seakan-akan memunculkan kata “ADIL” sejak dalam fikiran.

Maka menjadi sesuatu yang wajar jika paham-paham sosial berkembang di kalangan mahasiswa. Mahasiswa adalah orang terpelajar sehingga minat pahamnya itu berbeda ada yang suka filsafat, Gerakan ,dan seni bahkan ada juga yang menyukai semuanya.

Mahasiswa sosialis cenderung mengklaim dirinya adalah orang gerakan dan tentunya ingin akrab dengan sebutan “AKTIVIS”. Menjadi penggerak dan agent of change dan social of control seolah-olah merekalah yang akan menjadi penyelamat negeri. Sehingga ribuan kelompok-kelompok pejuang sosial itu ada dimana-mana. Sehingga dari tujuan untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pada poin kelima Pancasila harus menjadi nyata.

Menjadi hal yang wajar jika pertentangan di kalangan Aktivis untuk bagaimana mengubah bangsa kearah yang lebih baik karena mereka mengkonsumsi paham sosialisme dari pakarnya atau penggeraknya. Sehingga dari itu semua seakan ingin menjadi pejuang yang sesuai apa yang mereka konsumsi di buku yang mereka baca.

Pembaca Marxisme akan menjadi penggerak sesuai dengan keinginan MarxDan bahkan pembaca Che Guevara juga akan bergerak dengan fikiran tuan Che itu.

Adapula yang mengkonsumsi fikiran Ali syariati yang tetap melakukan pergerakan revolusi tentang proses berubahan agama dari ideologi menjadi sebuah institusi sosial, Bahkan hari ini yang masih sulit membedakan sosialisme dan komunis.

Saya pun Bingung Menulis ini!!!! Memahami paham sosial tidak terlepas dari sistem ekonomi, tipe masyarakat hingga pada banyaknya paham sosial kita menjadi sulit menyamakan apalagi membedakan dari banyaknya paham sosialisme seperti sosialisme marxis, demokrasi sosial, anarkisme, sosialisme religius dan sosialisme nasionalis dan masih banyak yang lainnya.

Berangkat dari pahamlah tindakan itu dimulai. Sehingga kita menjadi rancu dalam peletakan paham itu. Apalagi di Indonesia hari ini mungkinkah kita langsung melakukan perlawanan atas penguasa tanpa melihat ke arah sejarah terlebih dahulu?.

Apakah cocok jika kita berusaha memperjuangkan masyarakat tanpa kelas misal? Ataukah paham tentang berkumpul tanpa pemimpin?. Jika kita menelaah bagaimana sejarah Indonesia terlebih dahulu karena jika kita bicara tentang ideologi maka itu tidak terlepas dari Pandangan dunia. Kita hanya melihat problematika sosial tanpa melihat sejarah terlebih dahulu maka paham kita akan keliru.

Kepada para mahasiswa apakah ketika memulai pergerakan perlawanan haruskah bertindak diluar dari sifat nasionalis dan kebangsaan?. Wajar saja ketika paham Anarkisme dianggap sebagai aliran yang bahaya karena paham ini sangat melupakan sejarah bangsa Indonesia.

Memperjuangkan kaum tertindas, diskriminasi, intimidasi dan sebagainya adalah hal yang luar biasa. Tapi yang menjadi masalah adalah ketika membela jangan sampai menimbulkan masalah baru.

Bicara tentang penindasan oleh pemimpin negara apakah harus negaranya yang di tolak? Padahal negara adalah wadah saja. Sedangkan kebebasan hari ini sudah ada selama etika dan moral di kedepankan.

Melakukan revolusi itu adalah cita-cita mulia tapi apakah menghancurkan sistem adalah sesuatu ujung dari cita-cita yang mulia?. Maka tolong kembali pada sejarah bangsa.

Tentang Mahasiswa itu tentang kebangsaan. Tentang revolusi kaum pemikir ada pada mahasiswa. Maka lucu juga kita menjadi orang yang menolak sistem karena keras kepala.

Sebelum reformasi jangankan bertindak, berpendapat saja mustahil tapi sistem itu roboh juga karena pergerakan mahasiswa demi negara. Perubahan pun terjadi Hingga mencapai Demokrasi yang mulai dari demokrasi terpimpin hingga demokrasi langsung hari ini.

Maka untuk revolusi robohkan saja pengisi sistem hari ini dari partai yang berkuasa. Bukan sistem yang dihancurkan. Karena negara bukan memunculkan keburukan tapi mendatangkan kebaikan.

Kemajuan teknologi pun karena kerja sama negara. Hingga masyarakat bebas berpendapat hingga menimbulkan banyak hoax itu ada. jika keadilan sosial belum terwujud maka bergerak untuk mengawal keadilan itu.

Maka jangan menganggap pergerakan itu asal bergerak. Ketika marx menganggap agama itu candu sehingga berpendapat bahwa orang-orang beragama sulit untuk bergerak karena masih dipengaruhi oleh dogma. Tapi bagaimana dengan ali syari’ati yang menganggap agama sebagai ideologi dan kedua, agama sebagai kumpulan tradisi dan konversi sosial atau juga sebagai semangat kolektif suatu kelompok.

Apakah yang cocok di Indonesia?

Awalnya konsep sosialisme kerakyatan yang di gagas oleh Sultan Syahrir yang tetap menekankan aspek kemanusiaan dalam perjuangan, dan Bung Karno dengan Marhaenisme dan juga konsep yang digagas sebelum Indonesia merdeka dan di jelaskan dalam pidatonya yaitu NASAKOM (NASIONALISME,AGAMA DAN KOMUNIS) pada tahun 1965.

Soekarno menganggap “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme(Komunis) , inilah azas-azas yang dipegang teguh oleh pergerakan-pergerakan rakyat diseluruh Asia. Inilah Paham-Paham yang menjadi rohnya pergerakan-pergerakan di Asia itu. Rohnya pula pergerakan-pergerakan di Indonesia-kita ini,” (Soekarno dan konsep persatuan NASAKOM).

Dia sangat yakin, prinsip Pancasila dan NASAKOM, yang merupakan jalan tengah dan faktor penyatu antara kalangan agama dan kalangan sosialis, adalah masa depan Indonesia. Dia bilang, selalu akan ada pemikiran agama dan dasar-dasar sosialisme yang kuat di Indonesia, kedua prinsip itu saling bersaing.

“Saya berikan mereka Pancasila, kata Soekarno. Saya yakinkan kaum Marxis, agar mereka menerima prinsip Ketuhanan. Lalu saya yakinkan kubu Islamis, bahwa ajaran Marx adalah analisa jitu yang memberi kita instrumen untuk mencapai keadilan sosial. Kalau mereka semua mau saling menerima dan melepaskan doktrin-doktrin yang ditolak pihak lain, maka Indonesia akan berjaya. Dan mereka semua, kubu Agama dan kubu sosialis, mau menerima Pancasila demi kepentingan nasional” kata Bung Karno.

Tapi politik Soekarno akhirnya gagal.
Ya, secara menyedihkan dan mengerikan. Dimulai dengan penculikan dan pembunuhan brutal para Jendral. Lalu aksi pembalasan yang dilancarkan Suharto dan kubu militer secara lebih mengerikan lagi.

Jadi ketika ingin menciptakan revolusi jangan memperjuangkan sekaligus merobohkan bangsa. Jika ingin memakai paham sosialisme dengan berdasar kepada perjuangan atas hak-hak rakyat. Jangan melupakan siapa saja yang ada di Indonesia dan karena apa Sabang sampai Merauke bisa di satukan.

Semangat berjuang hari ini saya sangat apresiasi tapi disisi lain saya juga agak risih ketika kita menggunakan paham yang bertolak belakang dengan Sejarah tanah air Indonesia.

Jika rakyat tertindas kawal rakyatnya. Usut tuntas siapa dibalik penindasan itu lalu gulingkan penguasa penindas itu seperti apa yang ada dibalik “98”( sembilan Delapan). Kata dan tindakan pergerakan mesti ada tapi bergeraklah yang dimana mayoritas akan merespon perjuangan yang sedang di lakukan.

Maka tentang sosialisme bukan tentang Marx,Che Guevara, dan pemikir keras dalam negeri yang bernama Soekarno tapi masih banyak lagi. Konsep mereka hanyalah cermin perjuangan tapi bukan juga semua paham itu di tumpahkan di Tanah dan Air Indonesia secara spontan tapi butuh perenungan yang panjang dan pertimbangan. Karena Perjuangan Tidak sebercanda itu.

Penulis : A.Ikhsan Jurusan Hukum Tata Negara Fakultas Syariah Dan Hukum UIN Alauddin Makassar, (Redaksi).

Related posts

Penerima PKH Di Sinjai, Perlu Diseleksi Lagi, Banyak yang Tidak Memenuhi Syarat

Fadel Muhammad

Pembekalan Magang FTIK, Dekan Fakultas Berharap Mahasiswa Dapat Tembus Ke Internasional

Arfan Safaruddin

Wabup Sinjai Buka Smansa SRSC III Tingkat Penggalang Penegak Se-Sulsel 2019

Fadel Muhammad

Leave a Comment